My Unfamiliar Love : Bagian tiga
Liburan
telah berakhir aku akhirnya kembali berfokus pada kegiatan sekolah di semester
baru. Kegiatan aku dan teman-teman untuk bertemu terus berlanjut dalam beberapa
waktu dengan hal yang sama kami bahas seperti ‘apa ujian kita nanti akan sulit?
Apa yang akan kita lakukan setelah lulus nanti? Kita harus menemukan jati diri
kita untuk masuk ke jurusan yang sesuai keinginan kita nanti di kampus’.
Pada
suatu hari aku merasa bosan dengan kisahku dan Fadly, aku mengirimnya pesan dan
berkata “Dly aku mau putus”
“apa
maksud kamu?”
“engga
apa-apa aku cuma mau putus aja”
“aku
buat kesalahan apa sampai kamu tina-tiba kaya gini?”
“engga
ada kok, udah ya”
Keesokan
harinya aku melihat Fadly telah menungguku di dekat gerbang sekolah, aku hanya
melewatinya seolah tidak terjadi masalah. Namun Fadly masih mengikutiku dan
berusaha mengajakku bicara, namun aku tidak menghiraukannya sampai aku masuk
kedalam kelas dan dia hanya melihat dari kejauhan.
Edwin
teman sekelasku melihat Fadly, Edwin tau apa yang di inginkan Fadly saat itu. Edwin
memanggilku “Leen, Fadly nih?”
Akupun
berseru “biarin aja, aku sibuk belum kerjain PR”
Setelah
kejadian pagi itu Fadly masih terus berusaha untuk ingin bertemu dan berbicara
denganku tapi aku tetap bersikeras untuk memutuskan hubungaku dengan dia.
Suatu
hari aku mendengar kabar tentang Fadly dengan adik kelas kami disekolah,
teman-temanku pun mulai merecoki aku dengan beberapa pertanyaan mengapa Fadly
bisa berbuat seperti itu. Akupun menceritakan tentang berakhirnya hubunganku
dengan Fadly beberapa hari yang lalu kepada mereka. Tapi teman-temanku terus
berbicara
“tapi
kok Fadly kaya udah deket banget sama si Liza”
“kamu
engga marah apa liat si Liza akrab sama Fadly”
“kemarin
aku liat kamu masih dapat pesan dari Fadly, kamu juga masih balas pesan
Fadly”
“kamu
beneran udahan sama Fadly, sayang banget kalian kan udah cocok banget”
Akupun
berbicara dengan nada sedikit marah
“aku
putusin Fadly, gatau kenapa aku pengen putus aja. Aku tau kok kalau Liza akrab
sama Fadly dari lama, kan mereka satu organisasi jadi wajar aja sih. Iya kemaren
aku balesin pesan Fadly tapi aku udah biasa aja sama Fadly, cuma emang Fadly
terus ngajak buat baikan lagi tapi aku engga mau”
“ah
nanti juga balik lagi, percaya deh” pungkas Mela dari kejauhan.
“iya
iya pasti nanti juga balikan” seru teman-teman yang lain.
Ucapan
Mela menjadi kenyataan, beberapa bulan sebelum ujian tiba aku dan Fadly
berbaikan.
Ketika
disekolah mulai sibuk menyiapkan beberapa hal untuk ujian, aku malah bersenang-senang
dengan Abi, Banu, Vikal, Adit, dan Davira. Aku seperti menghilangkan stres
sebelum akan berperang dalam ujian.
“Leen
nanti kamu dijemput Abi ya tungguin aja dia udah kesana kok” ucap Banu
dari
ujung telepon.
“ah
okee” ucapku.
Abi
pun tiba dengan motor kesayangannya untuk menjemputku.
“ayoo
cepet, yang lain dah nungguin loh” seru Abi buru-buru.
“sabar
sih, emang mau pada kemana tumben kamu yang jemput?” tanyaku.
“biasalah
Davira ngajakin kita kumpul, dia udah pusing nyiapin ujian jadi ngajakin
Kita
ngilangin stres dulu” jawab Abi.
Setelah
sampainya ditempat andalan untuk kami berkumpul, tak lupa aku memberi pesan
kepada Fadly dan bilang bahwa aku sedang berkumpul dengan teman-temanku yang
lain. Hahaha….
Ketika
kami berkumpul tiba-tiba kami membahas tentang kisah asmara masing-masing, aku
tipe orang yang jarang bercerita bagaimana hubunganku dengan Fadly pada mereka
karna aku merasa tidak ada hal yang aneh dan harus aku ceritakan sajauh ini. Aku
lebih sering menjadi pendengar setia mereka, Karena kisah mereka lebih unik,
lucu dan nyeleneh.
Contohnya
kaya Davira, dia tipikal wanita dengan banyak gebetan sampai akupun gatau dia
lagi dekat dengan siapa atau dijemput dan diantar siapa. Vikal dan Adit tipikal
orang yang tidak jauh beda denganku
mereka jarang bercerita, berbeda dengan Banu dan Abi playboy. :D
Kami
lebih sering untuk memperhatikan Davira, karena dia perempuan dan menurutku
memang kurang baik jika memiliki hubungan dengan beberapa laki-laki. Selain karena
itu kadang ketika Davira memiliki masalah dengan salah satu gebetannya kitalah
yang turun tangan membantu menyelesaikannya. Jika Banu tipikal buaya darat,
berbeda dengan Abi sering menjadi buaya darat dan laut. Sudah menjadi rahasia
kami bersama jika Abi lebih banyak gebetannya, selain gebetannya banyak dia
sangat sering berbohong kepada gebetannya. Seperti beberapa hari yang lalu, dia
membawa gebetannya si A bertemu dengan kami dan besoknya dia mendapat telepon
dari gebetannya si Z. Karena kebiasaannya itu aku dan yang lain sering
menjahilinya menghitung berapa kontak nomor hp gebetannya apakah bertambah atau
berkurang. Lucunya ketika kontak nomor hpnya berkurang beberapa hari kemudia
pasti muncul lagi karena para gebetannya menghubunginya lagi.
Setelah
puas bercengkrama tentang percintaan akhirnya kita semua membubarkan diri. Ketika
aku dan Abi dalam perjalanan pulang, Abi tiba-tiba bercerita tentang
keinginannya berhenti menjadi playboy dan dia menceritakan bahwa keluarganya
pun sudah sering menceramahinya namun tidak dapat menuruti keinginan
keluarganya untuk berhenti menjadi playboy.
“Leen
kapan ya aku berhenti menjadi playboy?” tanya Abi
“kok
nanya sih?! Ya kamunya aja yang susah buat diajak kebaikan haha..” jawabku.
“aku
sering diceramahin sama keluarga aku, terutama kaka ku. Tapi dari semua
perkataan
orang rumah, belum ada yang bisa terlaksana. Kaya ada aja gitu hal yang
ngajak
aku buat jadi playboy.” Ucap Abi”
“ya
susah juga sih, kalau kamu engga cuma sama kita gaulnya. Temen-temen laki
Kamu
yang lain rata-rata pada playboy kan?” tanyaku.
“iya
juga sih, rata-rata mereka playboy.” Jawab Abi.
“ya
menurut aku sih kalau engga sekarang kamu berubah kapan lagi? mau nunggu
sampe
kapan? Coba aja dulu berubah emang gabisa sekaligus, perlahan tapi pasti
nanti
juga kamu engga akan playboy lagi” ucapku.
“iya
deh nanti aku coba buat berubah, semoga aja bisa” ucap Abi.
“ya
ya terserah kamu aja” jawabku.
Tak
lama kemudian akupun sampai ke rumah dengan selamat berkat Abi. Setelah beberapa
saat Abi pergi, aku tak lupa mengabari Fadly.
“aku
udah dirumah nih” pesan yang aku kirim pada Fadly.
“syukur
deh, jangan lupa belajar buat persiapan ujian” balas pesan dari Fadly.
“oke
bos” balasku.
Keesokan
harinya ketika jam istirahat disekolah aku bertemu dengan Fadly, dia bertanya
tentang bagaimana pertemuanku dengan teman-temanku. Aku menceritakan tentang
apa yang telah aku lalui kemarin. Faldy pun menjadi pendengar setiaku saat itu.
Tiba-tiba terlihat ada Liza berjalan dari kejauhan,
“tuh
ada Liza, engga kamu sapa?” ku goda Fadly.
“apaam
sih?!” ucap Fadly sedikit kesal.
“kan
kamu akrab banget sama Liza, aku aja engga tau kalau kalian bisa akrab banget. Tapi
ya kalau adik kelas biasa sih gapapa ya, cuma aku denger aja rumor waktu kita
Sempet
putus beberapa waktu lalu soal kalian berdua.” Ucapku menggoda.
“engga
ada apa-apa kok, aku emang engga ceritain soal Liza ke kamu karena emang
engga
ada apa-apa” jawab Fadly.
Hal
yang engga terdugapun mengakhiri perbincangan aku dan Fadly, karena Liza melewati kami berdua dan tersenyum sambil
menyapa kami. Yang membuatku takut apakah pembicaraan kami terdengar oleh dia.
“kaa
J” Liza berbicara sambil melewati kami.
“oh
hei, Za” ucapku.
Dan
Fadly hanya tersenyum pada Liza.
Ketika
jam istirahat berakhir, rumor yang aku dengar tentang Liza dan Fadly semakin
banyak yang sampai ke telingaku. Namun aku tidak pernah menghiraukannya, entah
mengapa aku menganggapnya hal biasa yang wajar meskipun ada temanku yang sering
mengompor-ngompori hubunganku dengan Fadly. Entah itu karena temanku yang dulu
sempat juga dekat dengan Fadly, namun hubungan mereka hanya dianggap teman oleh
Fadly.
Beberapa
minggu kemudian.
Hal
yang kami tunggu namun kami benci juga sebagai kelas dua belas akhirnya tiba,
kami harus melalui berbagai macam ujian agar bisa lulus dari sekolah tercinta
untuk melanjutkan cita-cita kami.
Berbagai
macam mood telah kami lalui dimasa ujian. Setelah semua ujian kami lewati tidak
banyak kegiatan yang kami lakukan, tidak ada corat-coret baju yang seperti
orang lain lakukan. Aku memilih membersihkan bajuku, untuk dapat aku sumbangkan
kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Kegiatan kelulusan dibuat
se-sederhana mungkin. Kami hanya datang ke sekolah pada sore hari dengan
menggunakan pakaian yang sopan untuk menerima surat kelulusan. Sampai akhirnya
rasa haru bercampur bahagia menyelimuti aku dan teman-temanku karena dinyatakan
lulus.
Banyak
pesan yang masuk ke handphoneku, hanya untuk saling berucap ‘Selamat’. Dan salah
satu pesannya dari Fadly, akupun membalas dengan ucapan selamat juga kepada
Fadly.
“Selamat,
akhirnya kita sama-sama lulus setelah banyak drama yang kita rasakan di bangku
SMA. Semoga kedepannya akan menjadi lebih baik” pesanku pada Fadly.

