My Unfamiliar Love : Bagian satu
“Neng, ada temennya tuh diluar,” Bi Idah ketuk-ketuk pintu kamarku.
“Siapa yang datang bi? Aku engga ada janji sama temen,” kataku yang teriak dari kamar.
“Itu ada Abi, neng,” jawab Bi Idah.
“Ngapain coba jam segini ganggu orang, mana engga sms dulu sebelum datang,” ocehanku sambil keluar kamar.
Namaku Aleen, aku asli Jawa Barat makanya nama panggilan Bi Ijah ke aku “neng”. Itu sebutan buat anak perempuan Sunda yang usianya lebih muda.
“Tumben Bi datang engga sms dulu, mana jam segini lagi,” kataku.
“Hehe.. Iya nih baru pulang main aku mampir dulu kesini. Habis sebel barusan waktu aku lagi naik motor di daerah deket sini malah di jitak sama orang engga dikenal,” seru Abi bercerita dengan wajah kesalnya.
“Kok bisa? Ah mana mungkin ada orang tiba-tiba jitak kamu, pasti kamu kebut-kebutan dijalan,” kataku penasaran.
“Engga ngebut dikit sih hehe.., padahal aku engga ngajakin balap kok cuma engga sengaja aja agak mepet bawa motornya,” katanya sambil terus pegang kepala.
“Emangnya jitakannya sakit? Kan kamu pake helm, pegang kepala terus,” kataku.
“Jitakannya kenceng tau! Sampe aku kaget, makanya aku mampir kesini biar agak tenang dulu.”
“Hahaha.. Makanya bawa motor tuh jangan ngebut-ngebut. Mau minum engga? Mumpung baik nih kasian kamu syok,” sambil terus ngeledekin Abi.
“Air dingin ya.”
“Oke,” sambil aku pergi.
Aku dan Abi berteman sejak SMP, tapi setika SMA kami berpisah karena perbedaan sekolah. Meskipun begitu aku dan Abi masih tetap berkomunikasi. Sekolah yang dia tempuh cukup jauh jadi dia difasilitasi motor oleh orang tuanya, beda dengan aku yang jarak sekolahnya dekat. Karna itulah dia terbiasa membawa motor dengan cara “ekstrim” sampai-sampai aku selalu memarahi dia kalau sedang berboncengan.
“Nih minum dulu, tenangin dulu hati dan fikiran biar pas nanti pulang engga ngebut lagi bawa motornya,” kataku sambil menyerahkan segelas air dingin pesanannya.
“Iya iya, kalau aku engga kaget mana mungkin aku mampir kesini dulu,”
“Terus habis dari sini kamu mau kemana lagi Bi? Jangan-jangan bukannya pulang malah main lagi,” kataku sambil membaca ekspresi mukanya.”
“Tadinya sih iya mau main lagi, tapi engga jadi deh mau pulang aja biar engga kejadian lagi kaya barusan.”
“Kayanya kejadian barusan tuh karma, karna kamu bohong sama ortu. Bilangnya mau kemana perginya kemana!”
“Hehe.. Tau aja. Udah ah airnya udah habis aku mau pulang deh,” sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Yaelah kesini intinya cuma minta air minum doang, gangguin orang istirahat.”
“Gitu aja marah.”
“Yaudah sana pulang udah sore, nanti dicariin orang rumah pulang kesorean,” kataku sambil mengusir Abi.
“Iya ini juga mau pulang, makasih ya minumnya. Maaf deh dah gangguin tanpa sms kamu dulu.”
“Iya gapapa, hati-hati dijalannya. Jangan ngebut lagi nanti di jitak orang lagi Bi.”
“Iya iya,” sambil menyalakan motor dan pergi berlalu.
Aku jarang bergaul dengan perempuan, kebanyakan teman-temanku laki-laki. Sebenarnya aku suka berteman dengan siapapun, tapi berteman dengan laki-laki menurutku lebih menyenangkan karena mereka jarang mengomentari tentang penampilan.
Geng yang aku punya dari pertemanan SMP terdiri dari enam orang. Aku, Abi, Banu, Vikal, Adit dan Davira. Rumah kami saling berjauhan, bahkan ketika itu aku belum tau dimana rumah Abi tinggal. Diantara aku dan Davira, Davira lah yang lebih dulu akrab dengan para laki-laki ini. Ke akrabanku dengan mereka terjalin karena ketidak sengajaan ketika kami harus mengerjakan tugas secara kelompok, yang lama kelamaannya aku terus terbawa oleh mereka setiap kali main sepulang sekolah.
Setelah beberapa saat kepulangan Abi dari hadapanku, handphoneku berdering pertanda ada sms masuk. Aku tau siapa yang mengirim aku sms, benar saja Abi mengirim aku sms.
“Len, aku dah sampe rumah,” pesannya.
“Syukur deh kamu dah sampe rumah.”
Kami memang terbiasa saling kirim pesan setelah sampai dirumah, agar tidak terfikir hal buruk apa yang bisa menimpa saat diperjalanan akan pulang.
“Sabtu sore ke cafe biasa, barusan Davira kasih tau aku. Nanti aku jemput oke?,” balasnya.
“oke, kabar-kabarin aja,” balasku.
***
Tibalah pada hari yang ditunggu, hari Sabtu. Cuaca hari itu sangat mendukung untuk berpergian, tidak terlalu panas ataupun tidak terlihat tanda-tanda hujan akan turun. Ketika aku sedang bersiap-siap dan menunggu Abi menjemput. Tiba-tiba,
“Len! Aileen!” Mamaku teriak dari depan rumah.
“Apa?” jawabku balas teriakan Mama.
“Ada Abi nih,” Mamaku jawab.
Sial! Ocehanku dalam hati, setiap kali aku belum siap sepenuhnya untuk pergi, dia selalu lebih dulu datang dan menungguku di depan rumah. Padahal dia sendiri selalu mengoceh kepadaku untuk tidak membuatnya menunggu.
“Iya tunggu sebentar,” kataku.
Ketika aku berjalan keluar rumah, sudah bisa aku tebak Abi sedang apa di depan rumah. Ya, dia sedang bercengkrama dengan Mama ku. Membahas hal-hal yang menurutku tidak penting, sambil menunggu aku menghampirinya.
“Kebiasaan banget kalau mau datang kamu engga kasih kabar dulu, jadi lama kan nunggu aku siap-siap,” ocehku kepada Abi didepan Mama.
“Mau pada kemana sih?” tanya Mama.
“Biasa tante, Davira ngajaki kita kumpul,” seru Abi balas pertanyaan Mama.
“Ayo Bi, nanti Davira ngomel kalau kita datang terlambat. Biar pulangnya engga kemaleman juga,” ajakku kepada Abi.
“Tante pergi dulu ya,” seru Abi ke Mamaku seraya minta izin untuk mengajak anaknya pergi main.
“Ma pergi dulu,” tambahku kepada Mama.
“Hati-hati dijalan, jangan ngebut!” jawab Mama.
Ketika diperjalanan menuju cafe.
“Tadi ngomongin apa aja sama Mama?” tanyaku ke Abi penasaran.
“Engga cerita aneh-aneh kok,” jawab Abi.
“Eh Bi ada razia tuh!” seruku.
Kita berdua memang selalu antusias ketika ada razia kendaraan. Maklum baru punya SIM jadi pengen diberhentiin Polisi dan menyombongkan SIM yang Abi punya.
“Diberhentiin engga ya len?” dengan nada penasaran Abi.
“Coba aja kepinggir-pinggir bawa motornya biar keliatan sama Polisinya,” jawabku.
“Ahh... Polisinya cuma ngeliatin doang,” oceh kami bersamaan dengan nada kecewa.
Setelah rasa kecewa yang kami alami karena engga bisa menyombongkan SIM Abi, kamipun tiba di cafe. Dari jauh udah terlihat Davira yang menunggu kedatangan kami.
“Lama banget sih kalian, habis dari mana dulu?” ocehan Davira kejauhan.
“Habis berharap diberhentiin razia,” jawabku.
“Kebiasaan deh kalau ada razia kalian pengen diberhentiin,” balas Davira.
“Ada apa nih tumben nyuruh kita kumpul Ra?” Tanya Abi.
“Iya nih lagi bosen dirumah, oh iya kenalin nih temen gw Kanzha,” kata Davira sambil nunjukin Kanzha.
“Aileen,” ucapku sambil menjulurkan tangan ke Kanzha.
“Kanzha,” balasnya.
“Dia lagi dia lagi, apakabar Zha?” ucap Abi seraya sudah pernah bertemu Kanzha sebelumnya.
“Baik Bi, lo sendiri?” tanya Kanzha ke Abi.
“Baik juga,” balas Abi.
“Oh ya minggu depan katanya ada pentas seni ya Len disekolah lo,” tanya Davira.
“Iya Ra, lo mau datang ke sekolah gw?” tanyaku.
“Kalau ada yang ngajak sih mau dateng,” lirik Davira ke Abi.
Davira merupakan yang paling terkenal diantara kami ber-enam sejak SMP, dan setauku di SMA yang sekarang dia belajarpun masih tetap terkenal. Dia lebih sering terkenal karena selalu membuat keributan, entah itu rebutan cowo, kena labrak kaka kelasnya atau ikut campur masalah orang. Diantara kami ber-enam Davira dan Banu lah yang satu sekolah lagi di SMA, sedangkan aku, Abi, Vikal dan Adit berbeda-beda. Satu hal lagi tentang Davira selain terkenal dikalangan anak sekolah dia juga terkenal diluar sekolah, dia juga anggota grup dance di kota kami tinggal yang cukup sering tampil ketika ada perlombaan maupun undangan acara. Aku lebih sering mengikuti alur Davira bercerita ketimbang sebaliknya.
“Oi kalian pasti dah lama ya nunggu gw?” sahut Banu yang baru datang.
Diantara aku dan Abi yang selalu terlambat datang, masih kalah terlambat dengan Banu. Dia selalu paling terakhir datang, dengan seribu alasannya. Banu merupakan orang paling berbeda diantara kami ber-enam. Dia keturunan Chinese, ayahnya asli Chinese dan ibunya asli dari Jawa Barat. Dengan mendengar kata Chinese saja kalian pasti bisa membayangkan kebanyakan orang keturunan Chinese, ya Banu berkulit putih dengan mata sipitnya badannya sedikit berisi dan berkacamata. Aku kadang panggil dia Koko.
“Kita udah mau bubar Ko, balik lagi aja sana!” ejekku ke pada Banu.
“Jahat banget sih Len,” balas Banu sambil duduk disebrangku.
“Pasti habis anterin gebetan balik dulu ya?” tanya Abi ke Banu.
“Iya nih, habis anterin doi beli skin care,” jawab Banu.
“Korban ke berapa,” tanya Davira.
“Korban tak terhingga,” balasku sambil tertawa.
“Engga usah dihitung juga kali,” jawab Banu.
“Ra gw pulang dulu ya, doi dah jemput tuh didepan,” ucap Kanzha.
“Buru-buru amat Zha,” ucap Abi.
“Gw dah dari tadi kali Bi disini,” jawab Kanzha.
“Yaudah hati-hati dijalan Zha,” ucap Davira.
“Oh iya, Len minggu depan gw ke sekolah lo ya,” ucap Banu.
“Ya tinggal dateng aja, toh terbuka buat umum juga,” balasku.
“Yess!!” ucap Banu seraya senang sekali dengan motiv tersebunyinya mencari gebetan baru.
“Adit sama Vikal engga bakalan dateng Ra?” tanya Abi.
“Kalian tau kan mereka orangnya sibuk, mana sempet nyamperin kita kesini,” ucap Davira.
Adit dan Vikal memang paling jarang bertemu dengan kami setelah lulus SMP. Diantara kami ber-enam rumah Adit lah yang paling jauh, selama SMP Adit harus dua kali naik angkutan umum agar bisa sampai ke sekolah. Sedangkan Vikal lebih sering aku temui ketika dia bersama teman-teman satu SMAnya ketimbang bergabung dengan kami. Entah mungkin menghindari bertemu Davira, karena dulu cintanya pernah ditolak. Mereka memang jarang ikut berkumpul, tapi komunikasi kami tetap berjalan meskipun hanya bertukar kabar.

