My Unfamiliar Love : Bagian lima
Satu
hari, dua hari, tiga hari setelah sesuatu yang terasa asing aku alami akhirnya
aku bertemu dengan Abi. Suasana yang tidak biasa menyelimuti, dalam keadaan itu
aku berusaha untuk tetap bersikap seperti biasanya.
“mau
kemana kitaaaa? Tumben banget kamu rapih gini” ucapku.
“cuma
pengen jalan aja sama kamu berdua” jawab
Abi.
“yaudah
terserah aku ngikut aja terserah kamu” ucapku.
Selama
perjalanan aku berusaha mencari topic pembicaraan tentang keseharianku
sebelumya, dirumah, dikampus, dan tidak terlewatkan pembahasan bagaimana cara
kami untuk tetap terlihat biasa saja dihadapan teman-teman kami.
“kenapa
harus bahas mereka? Kamu mau ajak yang lain jalan? Pengen kita engga nyaman?”
tanya Abi.
“ya
bukan gitu juga Bi, aku cuma belum biasa aja sama situasi ini. Kamu ngerasa
engga sih kaya ada yang aneh aja gitu?” ungkapku.
“engga
ada yang aneh kok, aku seneng kita bisa kaya gini jalan sama kamu. Berdua aja
sama kamu. Atau kamu engga seneng ya sama aku?” jawab Abi.
“engga!!
Kok jadi ngomong gitu sih, kan bukan mau ngajak berantem loh aku ini” aku
berusaha untuk mengembalikan kedamaian dalam perjalanan canggung ini.
Sampailah
disuatu tempat dikeramaian yang tidak asing bagi kami berdua.
“aku
lapar tapi engga mau makan, kamu mau apa? Tanya Abi.
“aku
engga lapar engga mau mikir juga, jadi terserah kamu” jawabku.
“yaudah
kesana aja yuk!” sambil menarik tanganku.
“apa
sih narik-narik tangan kan aku bukan anak kecil Bi” ungkapku.
“kan
pacar aku” genit jawab Abi.
Duduk
lah kami berdua disuatu tempat sambil menunggu pesanan yang telah di pesan Abi.
Pada saat itu aku terus melihat sekeliling, karena takut bertemu orang yang
kami berdua kenal. Terlebih hubungan kami berdua masih menjadi rahasia.
“apasih
liat sana sini mulu? Engga aka ada
yang kenal kita berdua kok. Cuek aja orang lain engga akan merhatiin kita juga
kan” ucap Abi.
“iya iya, bawel” jawabku.
“sekarang nih ngemil dulu, makan ya jangan
diliatin udah aku beliin kan. Gaboleh mikirin yang lain dulu kalo sama aku,
pikirin aku aja” genitnya.
“ih apaan sih Bi, kok jadi genit gini sekarang
ya?” ungkapku.
“ya biarin, yang penting sekarang kamu pacar
aku. Kamu kalo jamkos suka kemana aja hayo ngaku?” Tanya Abi.
“aku engga kemana-mana disekitar kampus aja,
mau pergi paling juga ke kosan temen aja. Males tau mau jalan-jalan juga belum
lagi kalo kelas mendadak” jawabku.
“anak baik, jangan pergi jauh-jauh apalagi
sama cowo” sambil mengelus kepalaku.
“iyaaaa” ketusku.
“udah nih makan dulu, aaaa….” Sambil menyuapiku
makanan.
“kamu jadi aneh Bi, aslinya gini? Sama cewe
lain juga gini? Sama pacar kamu yang lain? Pantesan banyak yang mau sama kamu”
ungkapku.
“loh kok jadi bahas yang engga-engga sih sayang?”
jawab Abi.
Aku cuma memperhatikan Abi tanpa menjawab
apapun. Dan Abi hanya tersenyum melihatku tanpa ekspresi.
“aku mau abadiin momen ini, momen dimana aku
jalan berdua sama kamu” ungkap abi setelah itu.
Abi pun membawa handphoneku untuk mengabadikan
beberapa gambar kami berdua, kalau aku ingat lagi semua gambar itu melihatkan
ekspresiku yang masih terlihat canggung sedangkan Abi terlihat senang. Entah itu
memang senang atau memang seperti itu kebiasaan Abi ketika bersama pacarnya
sebelum-sebelumnya.
Setelah kami merasa cukup untuk menikmati
waktu kami berdua, aku dan Abi berinisiatif untuk pergi ke rumah Davira. Kalian
pasti tau kenapa kami kesana? Yap rumah Davira seolah taman bermain kami.
“aku tanya dulu ya, takutnya dia lagi engga
dirumah” ungkapku disela perjalanan.
Sesuai dugaan kami, Davira sedang ada
dirumahnya.
Sesampainya dirumah Davira.
“kalian habis dari mana? Tumben nih” kata
Davira.
“tumben apanya sih? Biasanya juga kaya gini
kan” jawab Abi.
“iya nih, tumben juga kamu nanya gitu”
lanjutku.
Suasana orang pacaran pun berubah menjadi
pertemanan sewajarnya, aku berusaha untuk biasa saja sedangkan Abi berbanding
terbalik. Dia seolah manja terhadapku, apa-apa yang dia lakukan dihadapan aku
dan Davira pasti melihat padaku penuh cari perhatian.
“kriinggg… “ handphoneku berbunyi.
Aku lihat ada pesan dari Fadly masuk ke
handphoneku. Pada saat itu Davira berada disebelahku dia melihat siapa yang
mengirimi aku pesan.
“cieee Fadly nih” ledeknya.
Sontak aku melirik Abi, dan melihat dia mengerutkan
wajah padaku. Meskipun Abi berusaha biasa saja, aku tetap tau kalau dia
terlihat marah.
“Cuma nanya lagi apa kok” sengaja aku
membacanya dengan lantang.
“jawab dong lagi sama aku sama Davira” tegas
Abi.
“iya iya aku emang mau jawab gitu kok” jawab
ku tenang sambil melihat Abi.
Setelah beberapa kali aku saling membalas
pesan dengan Fadly. Akupun mencoba untuk tidak membalasnya lagi dihadapan Abi. Karena
dia terus berusaha untuk mencari perhatianku.
“Fadly masih suka ya Leen sama kamu?” Tanya Davira.
“ah engga kok, dia emang gitu aja. Lagian aku
sama dia juga engga sampai musuhan kan” ungkapku.
“iya deh percaya, engga musuhan” timpal Abi
bernada kesal.
Ketika Davira tidak berfokus pada Abi dan aku,
aku berusaha memperlihatkan handphoneku kepada Abi sambil mengelus kepalanya. Mencoba
meluluhkan hatinya kembali agar kemarahannya tidak berlanjut sampai kami
pulang. Dan tentunya itu berhasil membuat Abi senyum, sambil tetap
mempertahankan handphoneku di genggamannya, untuk meyakini bahwa aku tidak akan
membalas pesan Fadly.
“kalian bosen engga? Keluar yuk!” ajak Davira
pada kami berdua.
“yaudah ayo” jawabku.
Disini aku mengiyakan agar suasana diantara
aku dan Abi tidak terlalu kentara terbaca oleh Davira.
Sepanjang perjalanan saat itu aku berusaha menyuruh
Abi tetap berada didekat Davira, mendengarkan Davira bercerita, menutupi
hubungan yang sedang kami jalani.
Setelah Davira merasa puas mengobati rasa
jenuhnya, akhirnya kami pun kembali pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya aku dirumah, handphoneku berbunyi.
Dan ternyata itu pesan dari Abi. Tidak terfikir olehku tentang apa yang Abi
bahas pada pesan kala itu.
“kamu bener kan engga bales pesan Fadly lagi?”
Tanya Abi dipesan.
“ya ampun aku kira kamu mau bilang apa, engga
kok udah aku engga bales lagi” jawabku dipesan.
“kamu gaboleh ya kirim-kiriman pesan tanpa
sepengetahuan aku ke Fadly, kamu kan tau sebelum semua ini terjadi sikapku ke
Fadly kaya gimana. Ditambah lagi sekarang situasinya udah berubah engga kaya
dulu lagi, inget ya Leen sayang” ocehan Abi dipesan.
“iya sayang, gausah cemberut ya” balasku.
“tapi aku masih cemburu, aku masih marah,
meskipun aku tau Fadly udah pacaran sama yang lain. Terus kenapa juga Fadly
kirim kamu pesan ya, apa dia punya niat balikan lagi sama kamu, ditambah dia
juga belum tau tentang hubungan kita” ungkap Abi.
Pada saat itu sebenarnya Fadly udah tau
tentang hubungan aku dan Abi bagaimana. Tapi aku belum memberitahukan hal
tersebut kepada Abi. Dan ketika Fadly mengirimi aku pesan, karena Fadly tidak
tau aku dan Abi sedang bersama.
Aku berada di fase yang membingungkan
menurutku, aku melepas Fadly dengan keadaan rela. Dan tidak merasa memiliki
dendam apapun itu, terlebih aku dan Fadly memang bersikap dewasa untuk
mengakhiri hubungan saat itu. Dan sebelumnya Fadly memang telah menduga akan adanya
hubungan antara aku dengan Abi, dan itu juga tidak membuat Fadly merasa
keberatan. Fadly pun pernah berucap “hubungan kita berakhir bukan berarti silaturahmi
kita berakhir ya Leen, kalau kamu mau cerita sama aku juga ya silahkan,
sebaliknya kalau aku mau cerita sama kamu bolehkan? Kita temenan aja kaya kita
sebelumnya” dan aku mengiyakan, meskipun tidak semuanya aku ceritakan kepada
Fadly, aku hanya menginformasikan kepada Fadly bahwa aku menjalin hubungan
dengan Abi, bahwa Abi sangat sensitif terhadap Fadly, sangat cemburu terhadap
Fadly pun dia tau.
“iya maaf ya udah bikin kamu bt kaya gini,
engga kok Fadly engga ada niatan gitu, maaf ya.. jangan marah lagi, besok kita
ketemu lagi, mau?” balasku ke Abi.
Setelah itu mungkin Abi juga merasa bersalah
telah bersikap marah kepadaku, dan akhirnya dia kembali menjadi Abi yang baik.
“iya sayang, maafin aku juga udah marah-marah.
Kamu tidur aja udah malem besok aku jemput kamu ya” balasnya.
“iya kabarin aku besok ya” balasku.
“iya sayang” balas Abi terakhir malam itu.
Keesokan harinya.
“ayok jalan, bentar lagi aku sampai ke rumah
kamu” pesan Abi padaku.
“iya, kalau udah didepan rumah miscall ya”
jawabku.
Beberapa saat kemudian.
“Lee nada Abi nih” teriak Mama ku dari luar
rumah.
Sontak membuat aku kaget, tiba-tiba dia udah
sampai aja depan rumah. Mana dia ketemu sama Mama, bikin aku tambah deg-degan
aja kan.
“iya Ma, tunggu sebentar” jawabku.
Keluarlah aku dari rumah, dan melihat
pemandangan Abi yang bercengkrama dengan Mama sambil tertawa-tawa, dan aku
memberikan isyarat terhadap Abi untuk cepat-cepat berangkat pergi.
Seolah Abi menikmati suasana diluar rumah dia
pun sedikit menahan untuk terburu-buru pergi dan tetap berbincang dengan Mama,
sampai akhirnya aku menunggu beberapa saat.
“pergi dulu ya tanteu, Aleen nya aku pinjem dulu”
ucap Abi diakhir pembicaraan.
“Maaa aku pergi dulu ya” lanjutku.
“hati-hati ya” jawab Mamaku.
“kamu habis ngobrol apa sih, asik bener sama
Mama” ungkapku dalam perjalanan.
“ya gitu deh” serasa pembicaraannya rahasia
hanya untuk mereka berdua.
“iya deh, berarti udah engga marah lagi ya
sama aku?” timpalku.
“malah dibahas jadi keinget lagi kan”
kesalnya.
“loh kok marah, jangan marah dong” ledekku.
“becanda sayang, engga udah engga marah kok. Kamu
mau kemana hari ini?” jawabnya dengan nada manja.
“aku mau jalan-jalan aja” jawabku.
“iya deh yang penting sama kamu” genitnya.
“kamu nyesel engga?” tanya Abi.
“nyesel kenapa? tanyaku balik.
“iya nyesel engga, kaya gini sama aku? Takutnya
aja kamu nyesel, apalagi tau aku gimana sebelumnya” ungkapnya.
“kalau dibilan nyesel, ya nyesel ya” ledekku.
“loh kok gitu ngomongnya?” kesalnya.
“loh kok marah katanya nanya” jawabku.
“oh iya, engga jadi deh marahnya. Jadi gimana
jawabannya? Nyesel engga?” ungkapnya.
“ya tergantung lah, gimana sikap kamu hari ini
besok dan seterusnya ke aku” ungkapku.
“beneran, soal yang dulu aku bilang beneran
kok. Aku bakal jadi orang yang baik. Kalo boleh ya aku jujur, sebenernya cuma
kamu doang yang obrolannya aku tanggapi selain Mama aku. Suer!” tegasnya.
“hmm… gitu ya?” ledekku.
“iya beneran deh” meyakini aku yang masih
ragu.
“kita liat aja nanti ya” ungkapku.
“hmm…” kesalnya serasa tidak aku percayai
ucapannya.
Saat itu aku tidak berfikiran panjang tentang
bagaimana aku kedepannya, karena aku pun masih terus berusaha meyakini diri aku
terhadap apa yang sedang aku jalani. Aku, hanya seorang yang sedang menikmati
perjalanan cintaku yang sedikit unik dan berbeda dari sebelumnya.
“sayang..” ucapnya.
“apa?” jawabku.
“makasih ya” jawabnya.
“makasih apa?” tanyaku.
“makasih udah ngasih kesempatan buat upgrade
hubungan kita yan tadinya temen jadi pacar. Aku ngerasa nyaman aja, tiap kali
kamu bawelin aku dulu, tiap kali kamu ngasih saran sama aku, pokonya makasih. Aku
sebenernya engga ngira bakalan kaya gini, aku dulu udah pesimis banget sama
kamu, sampe kamu juga tau aku sempet jalan sama orang lain setelah ngungkapin
perasaan aku. Aku takut aku kecewa sama jawban dari kamu.” ungkapnya.
“iya sama sama, jadi anak baik ya” harapku.
“iyaaa” jawabnya.
Aku tidak berekspetasi tinggi terhadap semuanya, dalam fikiranku semuanya dibuat pahit olehku. Aku tidak ingin berangan-angan terhadap apa yang akan terjadi dikemudian hari.

