My Unfamiliar Love : Bagian dua
Kriiing..
Kriiing..
“Hallo”
“Kamu udah disekolah?” tanya seseorang diujung telepon.
“Belum aku masih dirumah, kamu dah sampe sekolah?” tanyaku.
“Iya nih sebentar lagi sampe, aku tunggu disekolah ya,”
“Nanti aku kabarin kalau udah sampe gerbang,” jawabku.
Setibanya digerbang sekolah, aku tak lupa mengabari seseorang yang telah menunggu kedatanganku.
“Dly aku udah sampe sekolah nih, kamu dimana?” tanyaku.
“Aku tunggu di kantin ya, aku lagi ke ruang guru dulu sebentar,” balas Fadly kepadaku.
Fadly merupakan pacarku, baru tiga bulan aku berpacaran dengan dia. Kami satu sekolah tapi berbeda kelas. Dia anak kelas IPS sedangkan aku anak kelas IPA. Aku dan Fadly dekat karena ketidak sengajaan, jelasnya dia yang lebih dulu menghubungi aku. Sebenarnya aku dan Fadly satu SMP tapi aku tidak mengenal dia sama sekali begitupun sebaliknya. Dia merupakan wakil ketua osis selain itu dia juga anggota paskibra disekolah, Fadly mudah berteman dengan siapa saja engga heran kalau dia memiliki ketenaran jauh diatasku. Ketenaran Fadly kadang membuat aku risih, ya aku risih karna banyak sekali perempuan disekolah yang ingin menjadi pacarnya.
“Leen, Fadly nyariin tuh,” ucap Bayu dari jendela kelas.
“Oh.. oke,” jawabku kepada Bayu.
“Habis ngapain ke ruang guru?” tanyaku kepada Fadly.
“Habis ngumpulin tugas anak-anak kelas,”
“Tugas bahasa inggris itu?”
“Iya, kelas kamu udah ngumpulin kan minggu kemarin?” tanya Faldy.
“Iya udah kok, antar aku ke kantin yu!” ajakku kepada Fadly.
“Ayo,”
Diperjalanan menuju ke kantin kami berpapasan dengan Sarah, dia mantan Fadly sebelum aku dan Fadly berpacaran. Mereka putus karena Sarah ketahuan selingkuh dibelakang Fadly.
“Sarah ngeliatin kamu terus tuh, dia mau balikan lagi kali sama kamu,” ucapku kesal.
“Ah… perasaan kamu doang, aku udah gapunya perasaan sama Sarah lagi kok,” balas Fadly dengan kesal karna ucapakun.
“Hai Dly,” ucap sarah kepada Fadly.
“Eh Sar.. hehe,” balas Fadly kepada Sarah dihadapanku canggung.
Mendengar Fadly membalas ucapan Sarah aku menambah kecepatan berjalanku menuju kantin, dengan wajah sedikit cemburu. Tak lama handphoneku bergetar, pertanda ada pesan baru masuk.
“Leen kamu di sekolah?” tanya Abi melalui sms.
“Iya aku disekolah, kamu mau kesini Bi?” balasku.
“Iya Leen aku udah digerbang, kamu dimana?” tanya Abi lagi.
“Aku di kantin Bi, kamu kesini aja aku tunggu,” balasku.
Beberapa saat setelah berkirim pesan, terlihat Abi sedang berjalan dari kejauhan.
“Kamu sama siapa Bi kesini?
“Aku sendirian, temenin aku ya. Aku pengen liat acaranya,”
“Kirain sama Banu,”
“Bentar ya, aku mau beli lollipop dulu Bi,”
“Iya Leen,”
Setelah aku membeli lollipop aku menghampiri Abi lagi, dan tak lama Fadly menghampiri kami berdua.
“Dly, kenalin Abi sahabatku,”
“Fadly,” sahutnya sambil mengulurkan tangan kepada Abi.
“Bi kenalin, Fadly pacarku yang sering aku ceritakan,” ucapku kepada Abi.
Ketika mereka berjabatan tangan aku merasakan ada suasana yang tidak biasa diantara mereka, selain itu aku juga merasa bingung antara menemani Abi yang berkunjung ke sekolah atau bersama Fadly.
“Selamat menikmati acara pentas seni di sekolah ini Bi,” ucap Fadly
“Oh, iya pasti Dly,” jawab Abi.
“Aku mau ke ruangan osis dulu ya Leen, kamu temenin Abi aja. Nanti aku kabarin lagi,” ucap Fadly kepadaku.
“Iya, kabarin aja nanti kamu diemnya dimana,” jawabku kepada Fadly.
Fadly pun pergi meninggalkan aku dan Abi.
“Pacar kamu sibuk ya Leen,” ucap Abi.
“Namanya juga wakil ketua osis Bi,”
Kriiing..
“Hallo,”
“Leen lo dimana gw diparkiran sekolah lo nih,” ucap Banu diujung telepon.
“Di deket kantin, sini,” jawabku.
“Oke, tungguin,” ucap Banu dan menutup teleponnya.
“Siapa?” tanya Abi.
“Banu, Bi. Dia ada di parkiran katanya,”
“Oh… sama siapa si Banu datangnya,” tanya Abi.
“Kayanya sama temen-temennya juga deh,” ucapku.
Engga lama kemudian Banu terlihat dari kejauhan bersama teman-teman sekolahnya yang sebagian besar engga aku kenal, tapi Abi kenal.
“Loh, lo kesini juga Bi? Kok engga bilang sih sama gw” tanya Banu sewot kepada Abi.
“Ngapain juga gw ngabarin ke lo, toh gw dah tau lo mau datang,” sahut Abi kepada Banu.
“Banyak banget Nu temen-temen lo,” tanyaku kepada Banu.
“Iya nih, engga sengaja gw ngeliat mereka di gerbang sekolah lo Leen jadi gw ajak aja,”
Abi-pun mengajar bicara teman-teman Banu yang baru datang, seolah dia anak sekolah sini.
“Acaranya dah mau mulai tuh, kita ke sana yu nanti keburu penuh tempatnya,” ajakku kepada mereka semua.
Acara pentas seni sekolahku memang selalu terbuka untuk umum, dan biasanya ada penampilan tamu khusus yang sekolah datangkan setiap tahunnya. Kebetulan tahun ini sekolah mendatangkan langsung Tulus.
Ketika aku berjalan bersama para sahabatku, dari kejauhan aku merasa risih karena perempuan sekolahku memperhatikan kami. Apalagi kalau ada yang sengaja bertanya kepadaku, padahal aku tau mereka bukan benar-benar ingin bertanya kepadaku tapi ingin sahabat-sahabatku memperhatikan mereka.
“Hai Leen,” ucap Putri menghampiriku sambil memperhatikan sahabat-sahabatku.
“Eh… Put,” jawabku.
“Siapa nih tamu-tamu cakep yang kamu aja,” sambil tersenyum kearah laki-laki disekitarku.
“Oh ini, teman-temanku Put,” sambil memperhatikan laki-laki yang jual mahal disekitarku.
Dari keramaian aku melihat Vikal. Tapi dia tidak mengabari kedatangannya, mungkin karena dia datang bersama teman-temannya. Setelah menyadari keberadaan kami Vikal-pun melambaikan tangan dari kejauhan, untuk memberitahukan kahadirannya ditempat ini.
“Si Vikal sombong amat, engga nyamperin kita-kita,” ucap Banu sedikit kesal.
“Biarin aja, nanti juga dia menghampiri kita toh dia dateng sama temen-temennya juga,” sahut Abi dengan nada datar.
Seiring bergulirnya waktu pentas seni disekolahku mulai semakin menyesakan bagiku, aku memang kurang suka keramaian terlebih banyak orang yang tidak aku kenal memenuhi lapangan tempat dilaksanakannya acara. Perlahan aku mulai mundur dari keramaian.
“Bi aku kebelakang dulu ya, udah engga nyaman disini,” ucapku ke Abi agar dia dan Banu tak mencariku.
“Iya Leen,” jawab Abi.
“Bruuugg!” tanpa aku sadari malah menambrak orang lain dibelakangku. Dan ternyata orang yang aku tabrak adalah Raka. Mantanku ketika aku masih SMP, aku dekat dengan dia hanya sekitar dua bulan dan akhirnya putus tanpa tau sebab akibatnya. Kulihat dia bersama seorang perempuan yang aku kenal, dia bersama Putri mantannya Fadly.
“Eh maaf..maaf, aku engga sengaja,” ucapku terbata-bata.
“Loh Aileen, kamu sekolah disini juga?” balas Raka dengan antusias.
“Iya Ka,” jawabku singkat.
“Apakabar? Udah lama engga ketemu,” tanya Raka kepadaku.
Belum aku jawab pertanyaannya, seseorang memanggilku.
“Aileen!” Fadly memanggilku dari kejauhan.
Kaget mendengar suara Fadly, membuat aku refleks lebih dulu menjawab panggilannya. “Yaaaaa,”. Fadly pun menghampiri aku saat itu.
Ketika Raka menyadari Fadly menghampiriku, dia terdiam. Seolah tau status hubunganku dengan Fadly. Fadly menghampiriku dan mengajakku pergi dari tempat itu.
“Semoga acaranya menghibur,” ucapku sebelum pergi bersama Fadly.
Fadly tau aku dan Raka pernah berpacaran, tidak heran mengapa Fadly mengajakku pergi dan memasang raut wajah cemburu padahal aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Raka tapi Fadly masih cemburu.
“Temen-temen kamu kemana? Kok tadi sendirian,” tanya Fadly sambil menyeretku agar terus mengikutinya.
“Ada kok, kamu tau kan aku engga terlalu suka keramaian. Makanya aku mundur,” meyakinkan Fadly agar tidak berpikiran macam-macam.
“Iya deh, aku percaya kok sama kamu,” jawabnya.
“Yaudah gausah marah lagi,” tegasku melihat raut wajah yang masih mengingat kejadian tadi.
Acara puncak yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba, aku bisa melihat penyanyi yang aku kagumi secara langsung. Betapa antusiasnya aku pada saat itu membuat Fadly ikut tersenyum melihatku, sampai lupa bahwa tadi aku dan Fadly bertengkar. Fadly mudah marah dan cemburu tapi kemarahannya tidak pernah lama terlebih ketika aku malah balik memarahinya. Aku memang lebih egois daripada Fadly, aku tidak mau dimarahi tapi senang memarahi Fadly.
Aku terus mengikuti acara puncak dan Fadly tetap menemaniku, sampai Fadly lupa mengecek handphonenya. Ketika Fadly menyadari hal itu dia bergegas meraih handphonenya, benar saja banyak pesan masuk yang dikirim oleh teman-teman organisasinya. Ketika itu aku sadar harus menyuruh dia kembali ke teman-temannya, untuk tetap menjaga situasi yang ada dibelakang layar panggung.
“Udah engga apa-apa, ke anak-anak lagi aja. Kalau kamu disini terus nanti mereka kerepotan, acara engga bisa berjalan sesuai rencana. Nanti banyak penonton kecewa loh,” ucapku sedikit pengertian kepada Fadly.
“Engga apa-apa nih aku tinggal?” tanya Fadly sedikit khawatir.
“Engga apa-apa kok, aku cari temen-temen aku aja,” ucapku sambil mendorong badannya agar segera pergi.
Tak lama setelah Fadly pergi, Abi datang menghampiriku.
“Fadly pergi lagi Leen?” tanya dia mendekat.
“Eh Bi, iya tuh maklum harus standby dibelakang panggung,” jawabku.
“Leen kamu mau aku fotoin engga?” tanya Abi dengan antusias.
“Boleh…boleh…, yang bagus ya,” pintaku kepada Abi.
“Tenang aja, hasil jepretanku pasti bagus kok,” jelas Abi.
Cheersss… akupun bergaya sesuai arahan yang diberikan Abi.
“Leen kita foto berdua yu,” ajak Abi kepadaku.
“Ayooo, siapa takut,” jawabku antusias.
Berfotolah kami berdua penuh keamburasutan, sampai pada suatu adegan dimana Abi terlihat ragu berfoto. Ketika aku sadar tangan Abi memegang pundakku, dan kami berdua benar-benar dekat. “Senyuuum,” ucap Abi menghilangkan keraguannya.
“Ngomong-ngomong Banu kemana Bi?”
“Tadi dia nyamperin cewe, gatau deh siapa.”
“Oh… Biar dia seneng-seneng aja semaunya asal engga bikin keributan aja,”
“Davira engga ngehubungin? Kan waktu itu dia ngode sama kamu, kalau ada yang ngajak kesini dia mau,” tambahku bertanya pada Abi.
“Ada sih tapi engga aku balas, aku males ngajak dia. Nanti orang-orang malah kiranya aku pacar dia lagi,” tegas Abi.
Aku dan Abi bersenang-senang, terbawakan suasana acara. Tanpa kami sadari mulai dipenghujung acara, untunglah Abi tetap menemaniku.
“Habis dari sini kamu mau kemana Bi,” tanyaku.
“Aku mau pulang aja Leen, kamu mau aku anterin pulang?”
“Engga usah Bi, aku nunggu dulu Fadly. Dia udah janji mau ketemu aku selesai acara.”
“Yaudah aku tinggal ya, engga apa-apa kan?”
“Iya engga apa-apa Bi, bentar lagi Fadly datang kok. Kamu hati-hati ya Bi, jangan ngebut-ngebut pulangnya.”
“Beres, nanti aku kabari kalau udah sampe rumah.”
“Oke.”
Setelah acara selesai, Abi-pun pulang dan aku masih menunggu kedatangan Fadly. Acara pentas seni disekolahku merupakan acara puncak seminggu sebelum kenaikan kelas. Dan minggu depan sudah memasuki liburan sekolah. Tak terasa akhirnya aku akan menjadi anak kelas dua belas, menduduki tahta tertinggi dikalangan anak SMA.
Fadly akhirnya datang, dia akan mengantarkanku pulang. Meskipun jarak rumah dan sekolah tidak terlalu jauh, tapi dia selalu mengantarkanku pulang dengan selamat.
“Minggu depan udah libur sekolah, kamu punya acara kemana Leen,”
“Kayanya aku mau keluar kota, aku udah janji sama Mama mau antar ke rumah Nenek. Emang kenapa Dly?”
“Oh yaudah kalau gitu. Engga apa-apa kok cuma nanya aja,” jawab Fadly.
Setiap liburan semester aku dan keluarga sering pergi keluar kota. Aku biasanya menolak untuk bertemu pacarku selama liburan, karna aku berfikir berkumpul dengan keluarga adalah moment langka bagiku, terlebih kedua orang tuaku bekerja.

