My Unfamiliar Love : Bagian enam
Semuanya berjalan dengan semestinya, aku menjalani hari-hariku dengan penuh sayang dari keluargaku, teman-temanku dan tentunya Abi pacarku. Semakin hari semakin aku mengenal bagaimana seorang Abi yang sesungguhnya, anak manja yang menutupi dirinya dengan kharismanya.
“Leen sayang, aku boleh pergi sama temen?” tanya nya diujung telepon.
“boleh” jawabku.
“makasih, aku berangkat ya. Nanti aku kabarin” ungkapnya.
“iya, hati hati” jawabku.
Aku tidak pernah melarang Abi untuk bertemu dengan teman-temannya, aku tidak pernah mengikuti semua kegiatan yang dia lakukan. Sedangkan aku tidak pernah melarang Abi untuk pergi bersamaku kemanapun aku pergi.
“aku mau ketemu temen, engga lama kok” ucapku.
“sama siapa?” tanya Abi.
“sendiri, engga lama kok” ucapku.
“aku anter aja ya?” ajak dia.
“kalau kamu engga sibuk, ya ayok” ungkapku.
Terus berulang dan berulang, hingga akhirnya aku memberikan kepercayaan penuh terhadap segala sesuatu yang Abi lakukan. Aku juga bisa cemburu, bisa marah, tapi mungkin hal itu jarang aku ungkapkan kepada Abi. Karena aku pikir, akan membuat dia tidak nyaman terhadapku.
Aku tau apa kegiatannya, aku tau siapa temannya, aku tau kemanapun dia pergi, karena memang Abi selalu memberitahukanku segalanya.
Suatu pagi yang cerah, aku yang sudah tidak memiliki jadwal kegiatan yang akan aku jalani hari itu. Tiba-tiba handphoneku bordering
“Leen kamu dimana?” tanya seseorang.
“aku dirumah ini baru sampai, kenapa?” tanyaku.
“oh kirain masih sekitaran kampus. Hehe” katanya.
“ada apa nih tumben banget, jadwal kelas kita udah kelar kan?” takutnya ada perubahan jadwal yang tidak aku ketahui.
“engga kok, aku juga udah pulang. Ini dirumah” ucapnya.
“oh gitu, kirain” balasku.
“hm.. gini Leen tadi pas diperjalanan pulang, aku ketemu Abi deh kayanya?” ungkapnya.
“oh.. ketemu dimana?” tanyaku.
“dijalan dekat taman kota Leen” jawabnya.
“oh gitu, terus?” tanyaku.
“iya aku liat Abi tapi sama orang lain, kamu tau engga siapa?” tanya nya.
“aku sih lagi engga berkabar sama Abi, soalnya baru pegang handphone juga” ungkapku.
“oh gitu ya. Soalnya aku ngeliatnya juga beda, sama cewe kaya akrab gitu” ungkap temanku ragu.
“mungkin kakanya?” jelasku.
“ah engga Leen ini beda” perjelasnya.
“nanti deh aku tanyain Abi” jawabku.
“iya. Tapi jangan bilang kamu tau dari aku ya? Mungkin Abi engga liat aku tadi, cuma aku engga sengaja liat. Mana keliatan akrab nya beda gitu Leen” jelasnya.
“iya tenang aja, makasih ya” jawabku.
Setelah temanku bercerita, yang aku pikir Abi pergi dengan kakanya. Kebetulan Abi memiliki dua orang kaka, satunya perempuan dan satu lagi laki-laki. Keakraban mereka tidak aku ragukan, karena memang keluarganya Abi sangat akrab satu sama lain, dan sering membuat salah paham bagi orang lain yang tidak mengetahuinya.
Karena penasaranku, aku tanyakan pada Abi tentang yang temanku ceritakan. Beberapa jam setelah aku mengumpulkan tenagaku, karena aku merasa saat itu membutuhkan waktu istirahat yang cukup.
“Bi dimana?” tanyaku.
“ini dirumah, kenapa?” tanya nya.
“oh gitu, kirain lagi di kampus?” tanyaku.
“engga udah pulang, tadi aku pergi sama kaka ku ini udah dirumah” ungkapnya.
“oh yaudah istirahat aja” jawabku.
Aku enggan untuk berfikiran negatif, dan enggan memperkeruh suasana yang sedang damai. Aku tidak mempertanyakan hal yang tadi membuat penasaran temanku. Karena aku rasa telah mendapatkan jawabannya.
“Leen sayang, besok aku ada acara dikampus. Tapi engga lama, kamu mau ketemu engga?” tanya Abi.
“ayok, besok aku libur. Besok aku jemput ya kesana” ungkapku, memang ketika aku dengan Abi berpacaran, tidak harus selalu Abi yang menjemputku. Kadangkala akupun yang menjemput Abi ketika kami ingin bertemu.
“okedeh, besok aku kabarin ya kalau udah selesai” ungkapnya.
Setelah beberapa jam, akhirnya aku bertemu pacar kesayangan aku. Dia udah nunggu aku beberapa menit sampai akhirnya aku dan Abi bertemu.
“Bi, tadi cewe siapa?” aku lihat beberapa perempuan yang sedang duduk di dekat tempat aku jemput Abi dengan menggunakan seragam yang sama seperti Abi. Kebetulan Abi mengikuti organisasi di kampusnya.
“oh tadi, temen-temen aku. Tadi ada Yuki yang duduk disebrang, Emil yang lagi sama pacarnya, sama ada Puspa yang lagi berdiri bareng anak laki.” ungkapnya.
“oh gitu, kok aku engga boleh berhenti deket kamu sih tadi?” tanyaku penasaran. Karena tadi pas aku jemput Abi, posisinya beberapa meter dari tempat dia berdiri.
“engga apa-apa kok sayang, kan biar engga ngehalangin jalan aja. Lagian aku malu kalau ketauan mau pergi pacaran, yang lain aja masih pada standby di kampus. Nanti juga aku mesti balik lagi kesini. Biar engga jenuh makanya aku ngajakin ketemu dulu sama kamu. Sekalian beli makan ya, aku laper” ungkapnya.
Singkat cerita Abi meceritakan bahwa Puspa salah satu kenalannya dari organisasi, mengajak teman-teman organisasinya untuk pergi ke acara ulangtahunnya yang akan diadakan di akhir pekan. Mendengar Abi bercerita tidak lain dan tidak bukan untuk meminta izin dariku. Dan akupun mengizinkannya.
Sesuatu yang mengagetkanpun beberapa minggu setelahnya, aku tidak sengaja melihat postingan dari sosial media seorang kenalan Abi yang terhubung ke sosial media temannya yang lain kala itu. Aku melihat beberapa gambar yang berjejer, gambar yang diambil ketika acara ulangtahun kenalannya Abi, yaitu Puspa. Terlihat biasa saja pada gambar sedangkan pada keterangan gambar dijelaskan rincian satu ke yang lainnya.
Tulisan yang bernada ; ‘terimakasih untuk rekan-rekanku. Aku telah menuruti berbagai macam perintah, namun dimata kalian salah sampai akhirnya aku dimarahi oleh Abi habis-habisan didepan kalian semua sampai kalian melihat aku menangis. Terimakasih juga kepada Abi yang telah berakting dengan baik sampai aku mempercai kemarahan mu’.
Entah aku yang terlalu sensitive atau bagaimana, mungkin bagi kalian itu terlihat biasa saja tapi bagiku tidak demikian. Dari semua tulisan itu hanya terdapat nama Abi di dalamnya, sedangkan yang aku lihat pada gambar ada mungkin lebih dari delapan orang. Kenapa dia hanya menyebutkan nama Abi pada keterangan tersebut?
Ah… sudahlah mungkin aku saja yang sedikit berlebihan, akupun tak mempertanyakannya kepada Abi mengapa demikian.
Namun karena aku penasaran tetap saja aku tanyakan beberapa hari setelah itu pada Abi secara langsung yang kebetulan aku temui dengan sengaja.
“Bi, Puspa itu siapa sih?” tanyaku tanpa basa-basi.
“kenapa emang?” jawabnya.
“engga apa-apa kok, cuma kok aku baru liat aja gitu”
“Puspa itu satu fakultas sama aku tapi beda kelas, kenal sama dia ya dari organisasi. Ya maklum aja kan dulu aku engga kenal sama dia jadi engga aku kenalin juga kan” jelas Abi kepadaku.
“oh gitu” kataku agak ketus.
Disela pertemuanku dengan Abi saat itu, ada waktu dimana Abi lengah memegang handphone nya. Rasa penasaranku pun bertambah, dan aku memberanikan diri membuka handhpone Abi. Aku membuka galerinya, terkaget oleh satu gambar dimana ada foto Abi yang berdampingan dengan Puspa. Hanya berdua pada gambar, tapi aku ingat lagi gambar tersebut seperti diambil ketika ulangtahun Puspa. ‘Oh okelah’ dalam fikiranku tak masalah.
Namun rasa penasaranku tidak kunjung hilang, aku membuka pesan pesan pada handphone Abi. Aku scroll sampai beberapa saat dimana aku membaca ada pesan dari Puspa.
“makasih ya waktu itu udah dateng, Mama juga bilang makasih sama titip pesan buat kamu katanya minta maaf udah ngerepotin kamu” isi pesan itu dari Puspa.
“iya sama-sama, oh engga kok engga ngerepotin” balas Abi ke Puspa.
Hal itu membuat aku marah kepada Abi, dan meliriknya sinis.
“ini maksudnya apa si Puspa bilang kaya gini? Apa sih yang kamu sembunyiin dari aku kali ini?! Aku jadi engga yakin sama omongan kamu sebelumnya tentang Puspa” ucapku marah kepada Abi.
“iya jadi waktu ulangtahun Puspa, aku disuruh bawa mobilnya terus disuruh jemput orangtuanya Puspa soalnya engga ada yang jemputin. Lagian juga Mama nya Puspa yang suruh juga” ucap Abi sambil menenangkanku.
“oh jadi kamu kenal sama orangtuanya Puspa?! Kenapa harus kamu?! Temen-temen yang lain kemana? Kan banyak juga yang dateng ke acara” ucapku.
“ya aku juga gatau, kenapa nyuruh aku” jawab Abi.
“ya kenapa kamu iyain waktu itu. Jangan-jangan waktu aku jemput kamu di acara kampus, sebenernya kamu udah akrab sama Puspa, makanya aku engga boleh jemput kamu depan temen-temen kamu?!” ucapku.
“dahlah aku males liat kamu, aku mau pulang aja” lanjut ucapku.
“loh mau kemana? Jangan marah, aku jelasin semuanya” pungkas Abi.
Aku bersikeras untuk pergi meninggalkan Abi sendirian. Aku merasa kecewa telah dibohongi seperti itu oleh Abi. Mungkin memang salahku telah memberikan terlalu banyak kepercayaan kepada Abi, tapi bukan itu juga yang harus Abi perlakukan kepadaku.
Abi bersikeras untuk tetap menjelaskan semuanya, dengan tetap berdalih semua kesalahan itu dilimpahkan kepada Puspa. Aku masih tetap pada pendirian marahku kepadanya, sampai akupun mengirimi Puspa pesan melalui sosial media. Berharap mendapatkan informasi dari pihak Puspa.
Tapi dalam percakapanku dengan Puspa tidak membuahkan hasil. Kami malah saling melontarkan siapa yang paling salah, namun aku tetap membela Abi yang notabennya tetap menjadi pacarku. Abi aku tetap marahi, sambil memperlihatkan percakapanku dengan Puspa sebagai bukti bagaimana dia membuat kebohongan-kebohongan dibelakangku.
Yang aku rasakan saat itu, aku merasa kecewa dan marah. Aku tau bahwa Abi berbuat kesalahan kepadaku dengan kebohongannya. Tapi aku tidak bisa memutuskan hubunganku dengan Abi.
“maafin aku ya, aku udah bohong sama kamu. Maafin udah bikin kamu kecewa padahal aku udah janji buat bersikap baik sama kamu” ucap Abi padaku.
“iya aku maafin kok, semoga kamu engga mengulanginya lagi. Kalau sekiranya kamu udah bosen sama aku, ya kamu bilang aja. Gausah kaya gitu” ucapku.
“makasih udah mau maafin aku, I love you” ucap Abi.
“too” jawabku.
“ya deh engga apa-apa kok kalau kamu tetep marah” ucap Abi.
“minggu depan aku ada acara dikampus, pasti bakalan jarang ketemu” ungkapku.
“mau aku anter engga?” Tanya Abi.
Kebetulan setelah kejadian itu aku bakalan sibuk sama acara kampus, kesempatan ini bisa membuat aku melupakan kekecewaanku kepada Abi. Dan membangun kepercayaanku kepadanya.
“emang kamu santai gitu?” tanyaku.
“santai kok, aku anter aja yaaa” meyakinkanku.
“oke deh boleh” jawabku.
Demi kelancaran acara kampus, aku dan teman-teman sekelasku berbagi tugas yang harus dikerjakan. Kebetulan aku hanya disuruh untuk mengantarkan beberapa barang secara berkala dari rumah temanku ke kampus. Tapi aku harus membawa Abi bersamaku karena terlanjur memperbolehkannya ikut, dan kembali membangun mood bagus dihadapan Abi.
Ketika aku telah sampai di kampus, dan bertemu dengan beberapa temanku yang telah menunggu kedatanganku beserta barang-barang yang aku bawa. Terlihat Abi sedikit ketus kepada teman-temanku. Jelaslah dia ketus, aku bicara dengan nada lembut kepada teman-temanku padahal aku bernada ketus kepada Abi. Hingga akhirnya Abi bertanya, siapa saja orang-orang yang menghampiri kami.
“itu temen-temennya, siapa aja namanya?” Tanya Abi.
“kenapa emang?” jawabku.
“nanya aja, emang engga boleh?” jawabnya.
“Eldar, Irsyad, satu lagi Yazid. Semuanya temen sekelasku” jawabku.
“oh..” singkatnya.
Diantara beberapa kelompok pertemanan dikelasku, aku-Hanna-Nada-Dianti adalah kelompok yang bisa dikatakan netral. Kami berempat bisa akhrab kemanapun, baik itu ke mereka yang pendiam hingga crewet, perempuan maupun laki-laki.
Namun hal itu tidak diketahui oleh Abi, karena akupun jarang menceritakan tentang teman-teman yang lain selain mereka bertiga dan yang sering bertemu Abi pun mereka bertiga. Sehingga pertemuan antara Abi dengan para laki-laki tadi sedikit membingungkan. Bagaimana bisa orang-orang yang menghampiri aku saat itu laki-laki.
Akupun sedikit memojokan Abi yang datang kala itu.
“ada Vena loh didalam gedung, kamu engga mau gitu ketemu dulu sama Vena” ledekku kepada Abi.
“engga ah, ngapain ketemu Vena. Kan niatnya juga nganter barang doang” pungkasnya.
“oh jadi kalau engga nganter barang aja, mau dong ketemu Vena” ungkitku.
“engga lah mau apa juga” tegasnya meyakinkan.
“iya deh iya” jawabku sambil sinis.
Kejahilanku sering menjadi-jadi ketika teringat kepada orang-orang yang pernah dekat dengan Abi. Padahal untuk mengungkitnya terkadang diakhiri dengan penyesalah, karena Abi dengan sengaja menjawab pertanyaan itu untuk balik menggodaku. Sebelum akhirnya Abi menggodaku, aku harus mengakhiri percakapan itu.

