My Unfamiliar Love : Bagian empat
Masa
SMA-ku berakhir, aku dan Fadly melanjutkan pendidikan ke tempat yang berbeda.
Komunikasi kami masih terus berjalan, meskipun jarang bertemu. Sama seperti
Fadly, aku, Banu-Vikal-Adit-Abi dan Davira juga semakin jarang untuk bertemu.
Aku
memulai semuanya dengan hal-hal baru, yang sangat asing daripada keseharianku
sebelumnya. Semuanya terasa sedikit mudah, karena Abi memberitahukanku beberapa
bulan sebelumnya, bahkan ketika hal-hal asing itu akan aku lalui dia selalu
memberikan informasi kepadaku.
Ceritanya
dimulai beberapa hari sebelum aku OSPEK universitas. Kalian tahu kan sebelum
kita OSPEK pasti ada pertemuan untuk bisa lebih awal berkenalan dengan teman
satu fakultas atau bahkan satu jurusan. Ketika itu aku akan pergi ke suatu
tempat yang sangat asing namun sedikit negative dalam pemikiranku. Abi
mengirimi aku sebuah pesan.
“kamu
lagi dimana?” pesan Abi kepadaku.
“aku
lagi mau pergi sama temen-temen baru nih, mau pergi ke Miauw” balasku.
“ngapain
kamu kesana?!” dengan tanda seru diakhir pesan Abi.
“seneng-seneng
aja, lagian aku gatau apa-apa diajak yang lain. Jadi ikut aja. Kenapa?” tanyaku kepada Abi.
Kriingg…
Kriiinggg…
Tak
lama handphoneku berdering, tertulis nama Abi dalam telepon yang berdering itu.
Aku hanya berfikir positive dan menghiraukannya.
“angkat
telponnya!” peasan Abi setelah aku mengabaikan telponnya.
“kirim
pesan aja, emang ada apa sih?” tanya balik dalam pesan kepada Abi.
“udah
tinggalin aja temen-temen kamu, ngapain juga kamu ikut kesana!” balas Abi.
Karena
aku malas untuk membuat hal sederhana menjadi masalah, maka aku hanya membalas
“oke, aku pulang sekarang.” Pada Abi.
Setelah
aku sampai dirumah, aku mengirimi Abi pesan.
“ini
aku udah dirumah, emang kenapa sih kalau aku ke Miauw?” tanyaku penasaran.
“kamu
gausah aja kesana ngapain sih pada ke Miauw. Miauw tuh apalagi kamu cewek nanti
pemikiran orang jadi engga-engga.” Pesan Abi.
“sebenernya
tadi aku engga langsung pulang, aku tetep di Miauw beberapa saat hahaha” ledek
ku pada Abi.
“berhubung
sekarang udah tau, yaudah kalau ada lagi temen yang ajak kamu ke Miauw jangan
mau aja Leen.” Perintah Abi.
Dalam
benakku hanya merasa bersyukur punya temen kaya Abi, yang selalu nyuruh
temen-temennya kea rah baik. Meskipun dia bukan orang yang baik dalam bergaul.
Beberapa
hari setelah itu, aku dan Abi bertemu. Dia sempat mencari persyaratan yang
engga dia miliki buat OSPEK. Sebelum dia datang, aku sempat mengirimnya pesan.
“boleh
ya, kamu minjem barang buat OSPEK tapi bawain aku martabak.” Keisenganku dalam
pesan kepada Abi.
Oh
iya, sebelum lupa. Abi dan Fadly lanjutin pendidikan ke universitas yang sama
bahkan mereka satu jurusan tapi beda kelas. Aku dan Fadly tidak bertemu
beberapa minggu saat kami sama-sama sibuk OSPEK. Fadly juga tidak banyak
meminta tolong tentang persyaratan OSPEKnya.
“Leen
tau engga, tadi waktu sebelum aku datang kesini aku bilang sama Mama mau ke
rumahmu. Aku juga bilang soal martabak dipesanmu.” Ucap Abi ketika bertemu.
“laahh!!!!
Biar apa cerita ke Mama kamu?!!!” sedikit kesal pada Abi.
“gapapa
iseng aja, Mama ku nyuruh aku belikan martabak. Tapi akunya aja malas buat sekedar
singgah beli martabak” ucap Abi.
“iya
gapapa, lagian aku iseng aja Bi. Engga beneran kok” jelasku kepada Abi.
Aku
memang telah berteman lama dengan Abi, Banu, Vikal, Adit dan Davira tapi tidak
cukup dekat kepada orang tua mereka karena jarang bertemu.
Akupun
mulai menikmati kehidupan sebagai seorang mahasiswi tingkat pertama. Bagiku
pendidikan di universitas dan SMA sama saja. Sama dapat pekerjaan rumah, sama
dengan cara penjelasan guru maupun dosen. Padahal dalam benakku, menjadi mahasiswa
akan menjadi lingkungan yang bersaing antar individu.
Ketika
sedang istirahat dalam kegiatan tambahan universitas, ada temanku Vena dia
bercerita tentang percintaannya yang kandas. Diakhir cerita dia mengutarakan
keinginannya untuk mendapatkan kekasih baru. Aku teringat pesan dihari
sebelumnya dari Abi, dia juga sempat bercerita tentang keinginannya memiliki
kekasih. Spontanlah aku ketika itu mengirimi Abi pesan.
“masih
nyari pacar engga Bi? Kebeneran banget nih aku lagi sama temen dia juga lagi nyari
pacar. Hahaha” pesanku ke Abi.
“waaahh
kebeneran banget nih, boleh dong kenalin aku ke temen kamu?” balasnya.
“oke,
nih nomornya namanya Vena” kataku.
Setelah
sukses menjadi makcomblang, hubunganku dengan Fadly mulai mengalami
pertengkaran-pertengkaran ringan namun lebih sering dari biasanya. Mungkin karena
jarang bertemu, komunikasi kami sedikit terkendala dan hal yang sedikit
mengecewakan adalah ketika aku mengetahui bahwa sejak kelulusan SMA ku Fadly
dan Liza semakin dekat. Kekecewaan Fadly pun pasti ada, terlebih ketika aku
mulai lebih sering bertemu dengan teman-temanku ketimbang Fadly. Memutuskan berpisah
merupakan jalan terbaik untuk aku dan Fadly, meskipun begitu kami masih menjadi
teman untuk beberapa waktu. Sampai pada aku mengetahui Fadly benar menjalani hubungan
dengan Liza. Aku mulai merasa ragu masih bisa berteman dengan Fadly, akupun
mulai menghindar apalagi Liza tau kalau aku pernah sangat dekat dengan Fadly.
Kembali
ke kehidupanku, setelah aku mulai menjauh dari Fadly aku merasakan kebebasan
bisa bertemu dengan banyak orang tanpa harus menghawatirkan pacar yang cemburu.
Menjalani keseharian tanpa seorang pacar bukanlah masalah bagiku, karena banyak
orang lain yang masih menghawatirkanku juga. Aku dekat dengan beberapa orang
pria, tapi aku merasa tidak ada kecocokan dengan mereka. Aku hanya menganggap
mereka sebatas teman.
Setelah
beberapa waktu Vena dekat dengan Abi, Vena bercerita tentang Abi yang ketahuan
berselingkuh darinya. Akupun yang pernah menjadi saksi kedekatan mereka merasa
tidak enak hati kepada Vena meskipun aku telah mewanti-wanti kepada Vena
sebelumnya. Dengan keputusan mereka yang terbaik, ternyata hubungan mereka
berakhir.
Setelah
kejadian itu Abi lebih sering ketahuan olehku sedang jalan bersama teman
perempuannya, bukan hanya satu tapi banyak. Aku mulai memberikan pendapatku
terhadap kebiasaan buruk Abi, aku tidak berharap dia bisa berubah dalam waktu
yang tepat tapi setidaknya dia harus menjalani hidup yang baik terlebih usia
kita semakin bertambah tua. Tidak ada orang yang ingin melihat temannya dinilai
jelek kan?
Bukan
hanya aku saja yang sering mengutarakan pendapat kebiasaan buruk Abi, namun
Davira pun mengutarakan pendapatnya.
“bosen
aku liat lu Bi tiap ketemu ganti mulu cewek lu” ungkap Davira dihadapanku.
“iya
bener, baru beberapa minggu kebelakang aku comblangin. Masa ketahuan selingkuh,
jadi gaenak kan aku sama Vena. Mau taro dimana muka aku?! Aku sedikit kesal.
“yaaa
namanya juga laki-laki yang lagi nyari jatidiri” ungkap Abi.
“engga
gitu juga, emang kamu mau kalau nanti kamu punya pacar tapi pacarnya selingkuh
dibelakang kamu Bi?” ungkapku.
“wah!
Kalau pacarku selingkuh aku bakal langsung putusin dia waktu itu juga” seru
Abi.
“dasar
buaya darat dan laut, curang sendiri hidupnya” pungkas Davira.
“liat
aja, karma masih berlaku” tambahku.
“semoga
aja engga kejadian karmanya” ngeyel Abi.
Sebenarnya
dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir aku bisa melihat ketertarikan Davira
kepada Abi. Dan Abi juga mengetahuinya, tapi entah mengapa Abi selalu tidak
menghiraukannya. Davira selalu ingin menjadi pusat perhatian Abi, dia selalu
berusaha untuk ingin bersama Abi. Terlebih orang tua Davira pun ketika bertemu
Abi sering menyanjung-nyangjunginya.
Itu
tentang Davira, sedangkan Abi mulai bersikap aneh terhadapku. Aku selalu
menampik fakta bahwa Abi sangat perhatian kepadaku. Suatu malam yang gelap dan
dingin, diiringi rintikan hujan yang indah. Aku sempat kesulitan untuk tidur,
dan saat itu Abi mengirimiku pesan.
“kamu
udah tidur Leen?” tanya Abi.
“belum,
kenapa?” jawabku.
“lagi
apa?” tanya dia.
“habis
ngerjain tugas nih, kamu tumben kirim aku pesan?” tanyaku balik.
“iya
nih habis minum kopi jadi susah tidur” jawab Abi.
“oh
gitu” balasku singkat.
“Leen,
mau gadang engga?” tanya Abi.
“kamu
mau gadang? Ya kalau mau ayo aja gadang mumpung besok aku santai” jawabku dalam
pesan.
“Leen
aku tuh pengen berubah, tapi kenapa ya susah banget” ungkap Abi padaku.
“udah
dari sananya kali Bi jadi susah buat berubah, ditambah lingkungan kamu yang
laki-laki semuanya playboy” ungkapku pada Abi.
“hmmmm….
Tapikan sekarang aku udah engga ketemu mereka lagi. O iya Fadly gimana
sekarang?” mengalihkan pembicaraan.
“engga
gimana-gimana, udahan” ungkapku sedikit kecewa.
“dia
beneran deket sama ade kelas yang satu organisasi sama dia?” tanya dia
penasaran.
“haha
iya, lucunya hidup ini. Katanya engga akan bakalan pacaran sama dia tapi
ternyata pacaran. Apalagi si Lizanya cemburu banget masa, sama aku” seruku
menjawab.
“waduh
parah banget bisa sampe segitunya” ungkap Abi.
“Bi,
kenapa waktu itu kamu selingkuhin Vena. Kan Vena baik, malu tau aku ketemu Vena
dikampus. Terus waktu kita papasan depan kampusku, kenapa wajah kamu merah
banget, coba waktu itu kamu ga ngelambai tangan ke aku. Pasti aku gatau kamu
disana” ungkapku pada Abi. Jadi sebelum Abi putus dari Vena, aku pernah papasan
sama Abi. Entah bego atau gimana, dia ngelabaikan tangan dari kejauhan pas aku
liat wajahnya merah banget sambil pergi sama cewek lain.
“aku
engga selingkuh, itu aku sama temenku dulu. Tapi yaudahlah sekarang udah engga
sama siapa-siapa lagi. oh hahah kejadian itu, aku kira kamu liat aku. Makanya aku
ngelabain tangan ke arah kamu. Masa sih, mata kamu salah kali masa wajahku
merah” bela Abi.
“beneran
kok merah udah kaya tomat rebus, kamu malu? Tapi kok bego malah ngelambain
tangan” ejekku pada Abi.
“iya
aku malu, lagian aku kira kamu ngeliat aku. Refleks aja aku ngelambai” jawab
Abi.
Waktu
mulai menunjukan tengah malam, aku mulai sedikit mengantuk untuk sekedar
membalas pesan Abi.
“Bi,
udah malem. Kamu engga ngantuk apa?” tanyaku padanya.
“engga,
aku belum ngantuk. Kamu udah ngantuk ya?” balasnya.
“iya
udah tapi dikit” ungkapku.
“jangan
dulu tidur, bentar lagi aja” ungkap Abi.
“yaelah
udah mau pagi juga Bi” jawabku.
“Leen..”
balas Abi.
“apa
lagi?!” sedikit kesal.
“aku
mau cerita nih, tapi aga serius” ujarnya.
“cerita
apa? Ya cerita aja” ungkapnya.
“sebenernya
waktu kejadian aku cerita pengen punya pacar itu bukan pengen dicomblangin sama
kamu” ungkapnya.
“terus
apa dong” penasaran.
“aku
tuh pengennya kamu jadi pacar aku” ungkapnya.
“gilaaa..
apaan sih Bi. Engga lucu tau becandanya!!!!” ungkapku.
“beneran
Leen aku engga becanda” balasnya.
“engga
lucu ah Bi!!! Udah aku mau tidur!!!!” pesanku pada Abi.
“jangan
dulu tidur!!!” ungkapnya.
“tapi
engga lucu tau kamu becandanya!!!” kesalku.
“aku
sebenernya cemburu tau sama Fadly, waktu kamu kenalin di acara sekolah kamu”
ungkapnya.
“HAH?!!!!!
Gila udah berapa tahun sejak kejadia itu Bi. Kamu engga salah minum obatkan Bi?
Error nih udah mau pagi” ungkapku.
“beneran
kok, aku udah suka sama kamu dari lama. Tapi aku engga pernah berani
ngungkapinnya, gara-gara kamu tau kadang aku suka deket sama banyak cewek. Tapi
aku tuh cuma jalan aja sama mereka, engga pernah ada perasaan apa-apa”
jelasnya.
“terus
kenapa baru bilang sekarang?” tanyaku penasaran.
“karena
aku cemburu lagi sama Fadly, akhir minggu kemarin kamu nonton pertandingan
basket malah ketemu si Fadly. Terus taunya dari orang lain lagi, pas kita lagi
ngumpul sama Davira, Meta, Cyntia. Makanya juga aku males ajak kamu ngobrol.”
jelasnya terperinci.
Aku
memang suka basket dari lama, aku sering datang ke acara pertandingan basket. Dan
kebetulan waktu itu Cyntia mengajakku melihat pertandingan. Hal engga aku duga,
aku bertemu Fadly disana. Dan orang-orang sekitar Fadly dan aku mengejek satu
sama lain karena pertemuan tidak sengaja antara aku dan Fadly itu. Dan beberapa
hari setelah aku bertemu Davira, Meta, Cyntia, Davira cerita kalau Fadly ke
rumahnya sama Tia.
Awalnya
aku merasa biasa, tapi malam itu berbeda. Karena aku berfikiran ‘apa maksud Abi
mengungkapkan prasaannya padahal beberapa hari lalu dia bawa Tia ke rumah
Davira.
Balik
lagi ke obrolanku dengan Abi.
“terus
kenapa kamu bawa Tia, ke rumah Davira beberapa hari lalu. Ah becandanya engga
asik nih” ungkapku dalam pesan.
“oh
itu pelampiasan aku gara-gara cemburu sama kamu” ungkapnya.
“gatau
lagi deh harus ngomong apa sama kamu Bi” ungkapku.
“tapi
beneran kok aku engga punya pacar, aku engga ada prasaan apa-apa sama
cewek-cewek yang diajak jalan. Merekanya aja yang ngejar-ngejar aku. Jadi gimana
nih, aku kan udah ungkapin perasaan aku ke kamu?” jawabnya penasaran.
“gatau
ah aku mau tidur” balasku.
Aku
bukan tipe orang yang bisa cepat jatuh cinta, aku membutuhkan proses adaptasi
yang lama, terlebih aku selalu memperhatikan apakan benar orang lain
menyayangiku secara tulus, apakah benar mereka mencintaiku.
“yaudah
sekarang kamu tidur aja, nanti lagi aja jawabnya” balas Abi.
“yaa..”
balasku singkat.
“iya
sayang, tidur nyenyak” balasnya.
Aku
tidak benar-benar pergi tidur malam itu, aku berfikir untuk beberapa saat. Kejanggalan-kejanggalan
yang pernah terjadi sebelumnya yang tidak pernah aku hiraukan. Aku merasa kacau
setelah Abi mengungkapkan perasaannya padaku. Banyak hal dibenakku yang aku pertanyakan
tentang bagaimana bisa dia menyukaiku, sejak kapan dia menyukaiku, mengapa
harus aku yang dia sukai, apakah ada yang salah dalam perlakuanku. Aku benar-benar
merasa gila malam itu.
Beberapa
hari setelah Abi mengungkapkan prasaannya, kami bertemu dirumah Davira. Aku mulai
merasa canggung ketika berbicara bahkan aku mulai tidak sanggup menatap
matanya. Namun kebalikan dari aku, Abi lebih sering menggodaku. Sontak hal itu
membuat Davira kaget karena sikap Abi. Dan aku merasa tidak enak kepada Davira,
karena aku tau Davira menyukai Abi.
“kenapa
sih kalian kok jadi aneh” ungkap Davira.
“engga
kok, Cuma lagi seneng aja becandain Aleen” ungkap Abi.
Aku
memberi isyarat mata kepada Abi agar tidak menggodaku, Abi malah semakin
menjadi-jadi. Dia menggodaku dengan cara aneh, dia ingin menggunakan pewarna
kuku dengan menyuruhku mewarnainya. Dengan terpaksa aku mengiyakan keinginannya.
Ketika mewarnai kuku Abi, aku terus berusaha bersikap sewajarnya dihadapan
Davira. Sedangkan Abi, mencuri pandangan dengan bersikap kekanakan ketika Davira
tidak memperhatikan kami.
Saat
ini aku sedang meyakinkan hati, apakah yang Abi ungkapkan merupakan ketulusan. Aku
terus bertengkar dengan perasaan, dan terus mengingat semua kejadian janggal
yang Abi lakukan kepadaku. Masih dalam rasa penasaran, aku sangat memperhatikan
segalanya tentang Abi. Aku merasa takut untuk mengambil tindakan bodoh
dikemudian hari. Namun seseringnya aku merasa penasaran, kuperhatikan Abi
memiliki tekad untuk dapat berubah menjadi orang yang baik sebagai pacar.
Butuh
sekitar dua bulan untuk meyakinkan hati ini, akhirnya aku memutuskan memberikan
jawaban terhadap ungkapan perasaan Abi kepadaku.
“Bi,
soal ungkapan kamu waktu itu. Aku mau jawab sekarang” pesanku kepada Abi.
“aku
kira kamu benci sama aku, aku janji kok bakalan jadi orang yang lebih baik. Tapi
kalau kamu engga mau, gapapa asal kita masih temenan” ungkapnya.
“tapi
sebelumnya kamu tau engga sih Davira tuh kaya yang suka sama kamu?” tanyaku.
“ahhh
aku gamau sama Davira, kalaupun aku mau pacaran sama dia pasti dari dulu Leen. Sekarang
fokus aja sama kita berdua, jadi gimana nih keputusan kamu?” tanya dia
penasaran.
“hmmm
gitu. Hmmmm…….. iya” jawabku singkat.
“hmm
iya apa Leen?” godanya.
“hmm…
iya aku terima kamu jadi pacar aku” ungkapku.
“beneran?!!!!!”
jawabnya.
“iyaaa”
balas singkatku.
“makasih
ya Leen, aku beneran kok berubah, janji” pesannya.
“iya
iya, aku perhatiin kamu kok dua bulan terakhir ini” ungkapku.
Akhirnya
aku berpacaran dengan Abi, orang yang sangat dekat yang selalu ada untukku. Meskipun
aku masih merasa canggung untuk merubah kebiasaan yang tadinya hanya teman
sekarang menjadi pacar. Terlebih aku merasa tidak enak hati kepada orang-orang
yang pernah aku dekatkan dengan Abi. Aku menjadi makcomblang yang malah jatuh
hati kepada targetnya. Namun dalam hubungan ku dengan Abi masih menjadi rahasia
kami berdua, kami tidak terlalu ingin mengumbarnya karena banyak yang hanya tau
bahwa kami hanya seorang teman.

